US Market:
DJIA: 26,246.96 (+0.71%)
S&P500: 2,904.31 (+0.54%)

Bursa saham AS ditutup rebound pada perdagangan kemarin, karena investor menepis sentimen dari meningkatnya retorika perdagangan antara AS dan China. Sektor teknologi didukung oleh berita bahwa sebagian produk Apple Inc (+0.2%) dan produsen gadget kebugaran, Fitbit Inc (+6.4%) akan lolos dari tarif impor, setelah pemerintah AS batal menerapkan tarif impor terhadap sekitar 300 kategori produk China, mulai dari jam tangan pintar, perangkat dengan Bluetooth, bahan-bahan kimia untuk manufaktur, pertanian, tekstil, serta helm sepeda kumbang. Saham produsen pesawat sekaligus eksportir terbesar AS ke China, Boeing Co juga berakhir +2.1% lebih tinggi. Secara sektoral, sektor konsumer diskresional mencatat performa terbaik dari 11 sektor utama S&P 500 dengan kenaikan +1.3%, dimana saham Nike Inc (+2.4%) berhasil mencatatkan level penutupan tertinggi sepanjang masa, pasca Telsey Advisory Group menaikkan target harganya. Sementara itu, saham Tesla Inc turun -3.4%, usai menerima keterbukaan untuk permintaan dokumen dari Departemen Kehakiman AS mengenai pernyataan CEO Tesla, Elon Musk terkait rencana go private.

European Market:
Dax: 12,157.67 (+0.51%)
EuroStoxx 600: 378.73 (+0.11%)
FTSE 100: 7,300.23 (-0.03%)

Bursa saham Eropa ditutup berbalik menguat pada akhir perdagangan kemarin, setelah China membalas dengan tarif baru terhadap impor AS senilai $60 miliar. Aksi balasan itu terjadi kurang dari 24 jam pasca Presiden Trump memberlakukan tarif 10% pada tambahan $200 miliar impor China. Indeks Stoxx 600 sempat merosot ke kisaran 377 menyusul kebijakan balasan dari China, namun berhasil pulih dengan cepat, karena tingkat tarif yang diumumkan oleh China lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya. China mengenakan tarif impor 5% hingga 10% terhadap barang-barang AS yang sebelumnya akan dikenakan tarif 10% hingga 20%. Di sisi lain, pada hari kemarin, Gubernur European Central Bank (ECB), Mario Draghi menyarankan bank-bank di kawasan Eropa mengurangi tingkat non-performing loan (NPL) supaya dapat meningkatkan aktifitas pinjaman dan profitabilitas.

Asian Market:
Nikkei: 23,420.54 (+1.41%)
SHComp: 2,699.95 (+1.82%)

Bursa saham Asia ditutup menguat pada perdagangan kemarin, meskipun terjadi eskalasi perang dagang antara AS dan China. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) resmi mengumumkan akan mengenakan tarif impor baru sebesar 10% terhadap produk China senilai $200 miliar mulai 24 Sep 2018 mendatang. Tarif impor tersebut kemudian akan naik menjadi 25% mulai 1 Jan 2019 mendatang. Bahkan di hari yang sama, Presiden Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor tambahan senilai $267 miliar, jika pemerintah China mengambil tindakan balasan, khususnya terhadap petani atau industri lain di AS. Sementara itu, Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa China tidak memiliki pilihan selain membalas keputusan AS demi melindungi hak dan kepentingan dalam praktik perdagangan bebas.

Indonesian Market:
JCI: 5,812 (-0.21%)
USD/IDR: 14,855 (-0.17%)
Net Foreign Sell: -IDR 197 miliar

Indeks JCI kembali melemah pada penutupan perdagangan kemarin, didorong oleh posisi net sell dari investor asing yang memasuki hari kedua. Saham-saham konsumer, seperti HMSP (-1.84%), UNVR (-1.14%), INDF (-2.87%), GGRM (-1.06%), KLBF (-0.82%), dan MYOR (-0.71%) melemah secara serentak. Sedangkan saham-saham ritel, seperti ERAA (+1.65%), RALS (+3.07%), ACES (+0.37%), dan MAPI (+0.62%) berhasil mencatatkan kinerja positif. Di sisi lain, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menurunkan batas nilai impor barang kiriman yang dibebaskan tarif bea masuk 7.5% dari semula $100 menjadi $75 per sekali kirim. Ketentuan baru ini akan efektif berlaku pada 10 Okt mendatang dalam rangka mengatasi praktik-praktik oknum tertentu yang sengaja memecah-mecah (split) barang impor yang dikirim ke dalam negeri. Sementara itu, pemerintah berhasil meraup IDR 4.90 triliun (target indikatif IDR 4 triliun) dari total penawaran yang masuk IDR 8.22 triliun pada lelang surat berharga syariah negara (SBSN / sukuk negara) yang dilakukan pemerintah kemarin.

Disclaimer On

Sources: BNP Paribas

Pin It on Pinterest

Share This