Ekonomi Makro:

Pemerintah menaikan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 untuk 1.147 barang konsumsi impor. Seperti, 210 item komoditas tarif PPh 22 naik dari 7,5% menjadi 10%, 218 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5% menjadi 10% dan 719 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5% menjadi 7,5%. Barang-barang tersebut umumnya memiliki pengganti berupa produksi dalam negeri.

210 item komoditas

Tarif Lama 7,5%
Tarif Baru 10%
Barang Mewah seperti mobil CBU

218 item komoditas

Tarif Lama 2,5%
Tarif Baru 10%
Seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah diproduksi dalam negeri. Barang elektronik seperti dispenser air, pendingan ruangan dan lampu. Keperluan sehari hari seperti sabun, shampo dan kosmetik.

719 Item komoditas

Tarif Lama 2,5%
Tarif Baru 7,5%
Semua barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya, seperti keramik, peralatan audio visual seperti kabel, box speaker, dan produk tekstil
 

 
Sektor:
Kementerian ESDM menetapkan harga batubara acuan (HBA) September 2018 sebesar USD104,81 ton, turun -2,8% mom dibandingkan HBA di bulan Agustus yang mencapai USD107,83/ton. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan permintaan dari China dan proteksi impor yang dilakukan negara tersebut.

Harga pakan ternak usai Lebaran 2018 terus naik dimana harga pakan ternak ayam per 1 September 2018 sudah naik sekitar Rp250/kg yang dipicu oleh kenaikan harga bahan baku seperti jagung serta apresiasi Dolar terhadap Rupiah. Sementara itu, produksi kedelai di wilayah Amerika Selatan tidak sebaik di tahun 2017 dimana panen kacang kedelai dari Argentina mengalami penurunan sebesar -26,5% yoy dari 49 juta ton menjadi 36 juta ton.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menegaskan bahwa penundaan proyek pembangkit listrik dengan total 15,2 GW belum berdampak pada Perseroan karena proyek tersebut masih sebatas perencanaan dan belum berjalan. Sebelumnya, pemerintah menargetkan pembangunan PLTU dengan total kapasitas sebesar 35 GW sepanjang tahun 2014-2019. Namun, proyek tersebut diundur hingga tahun 2024. Penundaan ini disebabkan oleh asumsi pertumbuhan ekonomi dan konsumsi listrik nasional yang di bawah proyeksi.
 

 
Emiten:

· JSMR akan melepas seluruh kepemilikan saham minoritas atau mengurangi sebagian kepemilikan saham mayoritas. Langkah ini untuk meraih pendanaan demi kelangsungan sejumlah proyek. Utama JSMR Desi Arryani mengatakan, saat ini, JSMR berada dalam proses pembangunan yang masif, sehingga memerlukan investasi yang besar. Setidaknya, ada empat proyek ruas jalan tol yang ditargetkan rampung akhir tahun ini.

· TINS menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 30%-40% hingga akhir tahun 2018. Perseroan mengalami kendala ekspor di bulan Maret-April 2018 sehingga mempengaruhi kinerja di Semester I/2018. Mulai Mei 2018, kegiatan operasional berjalan normal dengan volume ekspor timah hampir mencapai 5.000 ton. Kinerja di semester II/2018 diperkirakan membaik sehingga target pertumbuhan volume penjualan tercapai. Estimasi volume penjualan hingga akhir tahun 2018 sebesar 38.888-41.880 ton.

· SILO baru saja mengoperasikan rumah sakit ke-34 yang berada di Semarang yang merupakan hasil akusisi dengan nilai investasi sebesar Rp150 miliar dan merupakan rumah sakit pertama pereroan di wilayah Jawa Tengah. Rumah sakit ini memiliki kapasitas 20 tempat tidur dan hanya difokuskan untuk layanan keadaan darurat dengan masa inap rata-rata tidak lebih dari 3 hari. Selain itu, perseroan berencana menambah 5-6 rumah sakit baru dan menargetkan bisa mengoperasikan 40 rumah sakit sampai akhir 2018, dimana perseroan sudah menyiapkan capex Rp1 triliun tahun ini untuk ekspansi. Perseroan juga sedang membangun 1 rumah sakit lagi di Semarang dengan kapasitas 250 tempat tidur, yang ditargetkan akan beroperasi awal tahun depan.
 

 
Rekomendasi Harian:

DJIA naik +0,09% dan S & P turun -0,28%. Wall Street mixed karena investor berhati-hati akan kemungkinan Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif baru atas produk impor dari China senilai USD200 mulai pada Kamis, 06 Sep-2018 seiring dengan berakhirnya periode komentar publik.

Defisit perdagangan AS bulan Juli naik ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Penyebabnya penurunan ekspor kedelai dan pesawat sipil akibat perang dagang dengan China.

Pagi ini bursa Singapura dibuka naik +0,02% dan Kuala Lumpur naik +0,16%.

Kemarin nilai transaksi di pasar reguler sebesar Rp7,270 triliun dan Asing Jual Bersih 12,3% dari nilai tersebut.

Kemarin IHSG bergerak dalam kepanikan. Kurs Rupiah relatif melemah tidak besar. Perburukan besar terjadi di Yield SUN, yang menandakan adanya aksi meninggalkan Emerging Market (dana keluar).

Tetapi, hakekatnya keadaan sekarang tidak separah tahun 2008 pun (krisis keuangan global) yang dimotori oleh krisis keuangan di AS.

Pagi ini USD melemah sehingga semua mata uang menguat. Rupiah berada di Rp14.906/USD (masih terus bergerak cepat), semakin jauh dari Rp15.000/USD yang kemarin sempat tercapai. Yield SUN masih tenang karena pasar masih sepi.

Perbaikan Rupiah membawa harapan untuk menenangkan pelaku pasar, sehingga lebih RASIONAL. Dan ini membuka peluang perbaikan Yield SUN dan juga IHSG.

Besok ada peluang Trump memberlakukan pajak impor USD200 miliar. Tetapi ini belum menjadi perhatian pasar. Dan kejatuhan kemarin yang sangat besar bisa dikatakan telah cerminkan hal-hal yang buruk.

Saham-saham BERPENDAPATAN USD telah umum mendapat keuntungan di saat Rupiah tidak pasti. Tetapi, disaat sentimen pasar lebih baik Semua saham pun mendapat dorongan keatas.

Disclaimer On

Sources: Panin Sekuritas

Pin It on Pinterest

Share This